Keliling Mandalay 3 Hari 2 Malam

Mau cerita sedikit (ehe!) sebenernya pas mau ke Myanmar kita gak ada rencana untuk ke Mandalay, karena waktunya mepet dan gak cukup buat keliling. Tapi we took a risk! Akhirnya kita sempet2in karena udah jauh-jauh, why not!

Day 4 (Mandalay)

17:00 Arrive at Mandalay!  – Setelah perjalanan super panjang dan sering banget ngetem di beberapa tempat (mirip angkot emang), akhirnya kita sampai di Mandalay. Mendadak pas berhenti di pinggir jalan, ada bapak2 yang naik ke bus dan neriakin kita “Get Out! Get Out!”. Jujur gue serem, ekspresinya kayak mau malak orang. Gue, Shinta, bersama 3 bule lain turun. Ternyata eh ternyata, kita dipindahin ke mobil pick up dan dianterin ke hotel tujuan. Hehehe puji Tuhan. Kita nginep di Diamond Rise Hotel dengan total Rp 232.048,-/person untuk 2 malam, reviewnya bisa cek di post gue yang ini ya hehe.

57

View from the hotel!

19:00 Dinner at Mingalabar RestaurantUdah laper banget karena gak makan siang, kita cobain restoran yang paling hitz di Mandalay. Jarak dari hotel ke restaurantnya 2.3 km guys, dan kita jalan kaki. Walaupun jalannya agak gelap tapi surprisingly safe.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Kita pesen pork dan black beans with ricotta cheese. Menu utamanya itu aja, sisanya  adalah side dishes yang terdiri dari daging2an, soup, sampe lalapan pun ada. Dessertnya dikasih tea leaf salad (katanya makannya dicampur gitu) dan kacang yang dikasih coated sama caramel. Jujur gue dan Shinta kurang cocok sama makanan Myanmar… Bumbunya terlalu setrong, terlalu banyak rempahnya.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Totalnya harga makanannya 17.400 kyat = 182rb. Emang lebih mahal dari harga restoran lainnya. Tapi ini authentic Myanmar cuisine yang menurut gue wajib dicoba.

Day 5 (Mandalay)

08:00 The journey has begun! – Nah di Mandalay ini spot-spot yang menarik gak terletak di kota, tapi harus nempuh sekitar 1-2 jam perjalanan lagi. Ada 3 alat transportasi, motor, mobil dan Thone Bane atau bajaj! Gue prefer naik Thone Bane, karena selai bisa dinaikin 3 orang, dia juga udah ada di aplikasi Grab.

58

Beberapa tempat yang biasa dikunjungi di Mandalay ada  Mingun – Sagaing – Inwa – Amarapura. Kita pesen Thone Bane beserta drivernya dari hotel untuk nganterin keliling, dan janjian untuk dijemput jam 8 pagi di hotel. Price nya untuk 2 org 45.000 kyat = Rp 471.476,- udah termasuk bensin beserta driver.

Processed with VSCO with  preset

10:11 Mingun Pahtodawgyi – Sampai di sini sekitar jam 10 (what a hell of a ride banget sih naik bajaj 2 jam satu badan geter dan ngepot semua, hehe). Sepanjang jalan disuguhi pemandangan super unik. Karena ngelewatin kontur tanah yang naik turun, nyebrangin Irrawardy river lewat jalan tol yang lebih mirip jalur provinsi, plus ketemu sapi kambing sepanjang jalan. Memasuki area Mingun per orang wajib bayar biaya masuk 5000 kyat = Rp 54.363,-. Yang paling terkenal dan pertama kali kita sambangi adalah Mingun Pahtodawgyi. Tingginya sekitar 50 meter dan ternyata baru 1/3 dari tinggi rancangan finalnya. Gila.

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Dipercaya kalau pembangunannya selesai maka Raja yang bertahta di periode itu akan meninggal, makanya pengerjaannya diperlambat. Tapi toh akhirnya si Raja tersebut meninggal juga, yang berdampak distopnya semua pekerjaan pembangunan Mingun Pahtodawgyi ini.

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Nah kalau kita liat di bagian tengah batunya ada crack yang besar banget. Retakan ini  ada akibat gempa bumi di tahun 1800an. Sayang juga sih ngeliatnya karena pagoda yang harusnya bisa dibangun dengan bagus malah agak terbengkalai gitu, jatohnya kayak serpihan yang kurang terawat. Saran gue again dan again, datengnya pagi/sore, karena panas banget dan harus lepas alas kaki kayak maen kuda lumping tau gak lo nginjek batu dikit sakit.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with kk2 preset

10:45 Mingun Bell – Berikutnya kita lanjut ke Mingun Bell. Ini ya lonceng aja gitu, tapi enormous aja. Harusnya lonceng ini dipakai buat Mingun Pahtodawgyi cuma ya karena Pagoda nya gak selesai dibangun akhirnya si lonceng juga gak terpakai. Bell ini gedeee banget parah, dan merupakan 2nd largest bell in the world! Kalo ke sini, kita bisa juga getok bellnya supaya bunyi, tapi digetok sekenceng apapun bellnya gak bergeming wk.

Processed with VSCO with  preset

Ini pakaian tradisional wanita khas Myanmar, mirip banget sama cheongsam cuma lebih tertutup aja, seneng banget ngeliatnya karena super colorful.

10:51 Hsinbyume Pagoda at Mingun Nah walaupun udah banyak banget ngunjungin temple di Myanmar, one of the must visit ya Hsinbyume ini. Temple nya dibangun untuk memperingati salah satu Ratu yang meninggal saat proses labour. Namanya Hsinbyume Queen.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Yang bikin unik adalah selain keseluruhan templenya mesmerizing karena warnanya all white, templenya dikelilingi dengan 7 lapis tingkatan yang bentuknya kayak ombak. Dan kita bisa take a walk diantara lapisan ombak-ombak itu. Cantik banget makanya wajib dikunjungin. (maaf ya gue tidak sedeskriptif itu semoga terbayang).

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with kk2 presetProcessed with VSCO with kk2 preset

12:00 Soon U Ponya Shin Pagoda at Sagaing ­­Selanjutnya kita mampir di Soon U Ponya Shin Pagoda. Pagoda ini letaknya agak jauh dari Mingun, karena udah masuk area Sagaing. Kita sebenernya gak ada planning ke sini, tapi driver Thone Banenya mendadak berenti aja gitu di depan pintu masuknya. Setelah parkir, dia nemenin kita naik ke Pagoda.

Kita itu stop di bawah, sedangkan untuk menuju ke pagodanya yang ada di atas bukit kita harus naik tangga super tinggi. Alamaaaak. Waktu itu gue belom sering olahraga, napas masih ngos2an, adu nasib. Perjalanan naik tangga sampai ke puncak sekitar 30 menit udah termasuk berhenti buat istirahat. Untungnya tangganya ini ada atepnya ya jadi pas naik gak panas, dan banyak angin sepoi-sepoinya cukup membantu hidupku ini untuk keep going najak.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Please check out the left side of the photo ya teman2, itu tangganya yang bikin kita kecapean pas nanjak, lumayan tinggi juga. Pas kita nyampe di Pagodanya di atas, banyak turis lain yang udah sampai. Padahal kita liat pas naik tangga, gak ada turis lain samasekali. Ternyata eh ternyata, mereka bisa langsung masuk ke Pagodanya karena ada jalur khusus untuk mobil dan motor. Jadinya gak perlu naik tangga jauh2. Cryyyyy.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Nah Soon U Ponya Shin Pagoda ini seperti yang bisa dilihat unik banget karena dilapisi dengan berbagai keramik warna warni. Dan lucunya keramik ini gak terbatas terpasang di lantai aja, tapi juga termasuk di seluruh tembok, bahkan bangku juga gak luput dari lapisan keramik yang patternnya beda-beda. Gue dan Shinta sih betah banget di sini, tapi sayang hawanya kurang enak karena agak panas, mungkin karena letak Pagodanya agak tinggi.

Perlu diinget karena kita naiknya lewat tangga, makanya turunnya juga harus dari tangga, ehe. Alhasil kita pun turun tangga dengan kaki gemeteran, hu.

Processed with VSCO with  preset

13:52 Lunch at Chinese Restaurant – Sekitar jam 1 an baru makan……. Bukan karena kelamaan turun dari atas Pagoda tapi karena agak sulit cari tempat makan di area Sagaing. Daerah Sagaing ini didominasi dengan lapak-lapak tukang jualan. Kita specifically cari Chinese food karena gak terlalu cocok dengan Burmese food. Akhirnya kita makanlah di pinggiran jalan, pesen sweet and sour pork dan rice. Eh ternyata dikasihnya nasi pakai capcay, porsi super banyak kayak buat sekeluarga, alhasil gak habis. Padahal rasanya not bad~

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Menghindari kesalahpahaman dengan warlok, gue sarankan pakai google translate dan minta tolong mereka baca sendiri…. Kalo ngomong Bahasa inggris jatohnya kayak beli macan dalam karung, alias tebak2 berhadiah nanti dapetnya beresiko beda jauh hehehe. 

14:41 Boat Crossing to InwaNext one kita ke Inwa. Inwa ini dulunya adalah Ibukota Myanmar, sebelum beberapa kali berganti dan berakhir menjadi Yangon.  Nah kenapa harus naik boat untuk nyebrang? Sebenernya bisa aja muter lewat jalan darat tapi memang jauh.

Capture2

 

Processed with VSCO with  preset

Nyebrangnya pakai perahu kecil kayak perahu nelayan. Gue kurang inget berapa harga tiket nyebrangnya, pokoknya murah. Yang mahal itu kenyataan bahwa setelah nyampe, kendaraan yang ada hanya kereta yang ditarik kuda atau kalo di Indonesia kita kenalnya delman. Semua turis diarahkan untuk naik delman itu (1 kereta bisa isi 2-3 orang). The point is we just can’t afford it, sekitar 15.000 kyat = Rp 160rb untuk 2 orang. Dan kalau full muterin Inwa jalan kaki butuh 5 jam. Tapi setelah gue discuss sama Shinta kita mutusin untuk jalan kaki aja. Pertimbangannya karena kita gak bisa lama-lama disitu, dan sayang juga kalau udah sampai sewa delman tapi gak full keliling Inwa.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with hb2 preset

Dengan jalan kaki, berusaha menghindari tahi2 kuda (ini areanya masih banyak banget tanah merahnya) dan berbekal google maps kita pun sempet mengunjungi beberapa temple di Inwa. Jalannya ternyata gak terlalu jauh juga karena ada jalan tikus tembusan juga. Bisa jadi alternatif buat kalian yang gak mau terlalu lama di Inwa, mungkin gue dan Shinta sekitar 1-1.5 jam kali ya disini eksplor dan foto-foto. Abis itu cabut lagi ke next destination!

Processed with VSCO with hb2 preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with  preset

16:50 U Bein Bridge, Amarrapura – Our last destionation for today! Jembatan U-Bein ini panjangnya 1,2 km. Gue dan Shinta bolak balik 2 x, jadi total kita keliling bridge itu aja udah jalan kaki 2,4 km ehe nice. Jembatannya kayu dan masih ditopang pakai kayu juga, di beberapa bagian udah bolong2 jadi ngeri sedap juga pas ngelewatin ya takut nya njeblos ehe.

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with  preset

Selain banyak turis yang foto-foto di jembatan ini, banyak juga yang ngeliat sunset di sini.Salah satunya kita. Dan emang cantik banget sih. Pokoknya maknyoso fantastica luar biasa banget view nya, bisa ngeliat matahari terbenam lengkap dengan refleksi pancaran sinarnya di air….

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Day 6 (Mandalay-Yangon)

Hari terakhir di Mandalay kita keliling beberapa landmark dan temple naik Thone Bane. Tapi gak nyewa kayak kemarin, kita pakai grab aja jadi kapanpun bisa pindah-pindah tempat tanpa ditungguin driver.

10:00 Mandalay Palace – Sebelumnya agak bingung juga apakah harus ke sini atau tidak, karena ngeliat dari review di internet kok kayaknya gak terlalu bagus dan katanya kurang worth it. Apalagi masuknya 10.000 kyat = 100rb hixxx. Tapi di sisi lain, ini salah satu landmarknya Mandalay. Tapi akhirnya toh kita yakinin juga untuk dateng ke sini.

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Ternyata tiket 10.000 kyat ini udah termasuk untuk masuk untuk beberapa temple di Mandalay. Jadi sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui ehe. Begitu mau masuk Mandalay Palace, kita distop sama petugas jaganya (yang agak nyeremin) untuk beli tiket dan nyerahin passport. Ya, nyerahin passport… Agak serem sih di negara orang lain dan gak pegang passport, tapi tenang aja nanti dibalikin kok.

Nah sebelum pas masuk ke palacenya kita harus jalan kaki atau naik ojek sekitar 1 km. Yang kita pilih so pasti jalan kaki, karena gak terlalu jauh dan sekaligus bisa enjoy Mandalay Palace itu sendiri.

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with  preset

Tempat ini luaaaaas banget parah. Gue dan Shinta sih gak sempet masuk ke masing-masing ruangan/bangunan karena emang terlalu luas. Tapi satu hal yang gue notice adalah tempatnya agak kurang terawat (maaf ya… maaf banget), kosong, dan jadinya kurang menarik aja buat didatengin. Banyak bagian yang udah agak kusam juga dan dinding-dinding temboknya terkelupas.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Kita juga naik ke salah satu menara pengawas yang ada di situ, agak serem juga soalnya tangganya itu kayu (ihiy) dan lumayan tinggi, tapi view from the top nya lumayan menarik.Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

13:00 Keliling Temple – Nah saking banyaknya temple di Mandalay, kita bisa temple hopping. Gue sendiri jujur udah lupa nama masing-masing templenya karena saking banyaknya. Udah gitu templenya kebanyakan kecil-kecil dan bisa dikelilingin dalam jangka waktu 30 menit – 1 jam aja.

Processed with VSCO with  preset

13:43 Kuthodaw Pagoda Salah satu landmark lain yang wajib dikunjungi adalah Kuthodaw Pagoda. Kita insist ke sini karena Kuthodaw Pagoda ini terkenal nyimpen the biggest book in the world. Biggest book in the world yang dimaksud ini buku Tripitaka. Setelah masuk dan mencari-cari, kok kita ga ketemu2, dimana ini bukunya. Kita pun akhirnya nanya ke salah satu penjaganya.  Ternyata ya setiap lembar buku nya ada di dalem bangunan dengan bentuk pagoda putih ini. Dan pagoda putihnya tersebar di seluruh pagoda.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with kk2 preset

Processed with VSCO with kk2 preset

16:00 Mandalay Hill – Last destination di Mandalay adalah the famous Mandalay Hill, pagoda di atas bukit dengan ketinggian 241 m di atas permukaan laut. Cara naik ke Mandalay Hill ini ada dua, yang pertama dengan naik tangga (1.729 steps) dan bisa juga pakai mobil/taxi. Kalau pakai mobil setelah entrance mereka sediain lift buat naik, especially untuk orang tua dan people with disabilities.

Kita mutusin untuk ke Mandalay Hill dengan naik tangga, titik mulainya dari tangga putih yang diapit 2 Chinese Guardian Lion Statue. Naik tangganya ini ga pakai alas kaki ya guys, ciaka. Sendal harus selalu dititipin di lantai paling bawah sebelum masuk. Dan oho tangganya tidak berkeramik ya, cuma disemen aja.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Butuh waktu sekitar 30-45 menit sampai akhirnya kita bisa sampai di Mandalay Hill. It was worth it!!! Sumpah sih so captivating. Seluruh bangunannya covered in multicolor glass yang dikerjakan handmade. Diukir, dipotong, dan ditempel satu per satu. Kenapa gue yakin banget? Karena pas kita ke sana mereka lagi potong-potong dan tempel-tempel. Kayak kolase pokoknya.

And it was a perfect time to watch the sunset………. Dan saya nobatkan ini adalah best spot in Mandalay. Kita bisa ngeliat 360 degree view Mandalay City, indaaaaaaaaah sekali.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Ini potongan multicolor glass yang tadi gue maksud, kalau diperhatiin lebih detail memang ukurannya banyak yang uneven, semua karena dikerjain manual pakai tangan.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Ini lift yang sempet gue singgung di atas. Jadi kalo kalian gamau cape2 bisa naik lift aja. Sebenernya lumayan peer juga naik tangganya, gue yang waktu itu memang tidak rutin berolahraga kecapean juga. Dan sempet beberapa kali duduk buat istirahat. Padahal kita udah sengaja bawa barang sesedikit mungkin, cuma berbekal air minum dan hp tapi tetep aja ngos-ngosan hu.

Bisa dilihat dari foto-foto yang kita abadikan, sunset Myanmar itu terbaik, beneran deh. Mungkin karena udaranya masih bersih dan gak banyak polusi, makanya langitnya selalu cerah. Sekitar jam 5 an harus cepet2 cari spot yang paling bagus buat liat sunset, karena rebutan juga sama turis yang lain.

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

Processed with VSCO with  preset

last one

Abis memandang sunset sebagus ini kita menyiapkan diri untuk turun ke tempat penitipan sendal… Kalo naiknya ngos-ngosan, pas turun kaki itu geter coyyy. Tidak habis pikir kaki ini udah 2 x naik turun bukit selama di Mandalay (saja). Gue saranin kalo mau ke Myanmar mungkin raga itu harus dibekali dengan olahraga sedikit, biar ga kaget2 amat. Karena hampir semua lokasi ada aja naik tangga, udah gitu karena man-made dari jaman dulu tangganya kurang ergonomis ya ehe.

20:30 Otw to Yangon – Balik dari Mandalay Hill kita bergegas balik ke hostel buat ngambil tas, trus langsung capcus naik taksi ke Mandalay Terminal Bus. Malam ini kita nempuh Mandalay-Yangon pakai sleeper bus, kurang lebih 7-8 jam dengan estimasi sampai di Yangon jam 6 pagi. Atas saran dan rekomendasi warganet kita pilih naik JJ Bus yang kata semua orang paling nyaman. Eits, setelah dicoba ternyata kenyamanan bus nya tetep kalah sama provider  Khaing Mandalay Express yang sempet kita naikin dengan rute Yangon-Bagan hehe.

Nah sampai sini dulu ya, nanti gue sambung lagi di part 3 di kota terakhir yang kita datengin di Myanmar… Yangon!

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s